Pabrik Mobil Listrik BYD Subang Mengalami Kebakaran di Tengah Tahap Konstruksi Akhir, Kerugian Mencapai Miliaran
--
+
Pihak manajemen menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan kebakaran berskala kecil dan langsung berhasil ditangani dalam waktu 20 menit berkat kesiapan tim pemadam kebakaran internal kawasan industri Subang Smartpolitan bersama dinas pemadam setempat.
Manajemen juga memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, serta area mesin inti produksi sama sekali tidak terdampak oleh insiden ini.
Baca juga: Innalillahi! Masinis Tragedi Bintaro 1987, Mbah Slamet Suradio Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun
Fasilitas manufaktur di Subang ini memegang peranan yang sangat krusial bagi peta jalan komersial BYD di pasar otomotif Asia Tenggara. Berdasarkan data korporasi, berikut adalah rincian target strategis dari pabrik tersebut:
- Nilai Investasi Fantastis: BYD menggelontorkan total modal investasi mencapai **Rp11,7 triliun** (sekitar 1 miliar Dolar AS) untuk membangun basis manufaktur pertamanya di Indonesia.
- Luas Lahan dan Kapasitas Maksimun: Berdiri di atas lahan seluas **108 hektare**, pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi massal hingga **150.000 unit mobil listrik per tahun**.
- Penyerapan Tenaga Kerja Lokal: Gubernur Jawa Barat memastikan operasional penuh pabrik ini diproyeksikan bakal menyerap hingga **18.000 tenaga kerja** baru secara bertahap.
- Prioritas Model Terlaris: Jalur perakitan lokal (CKD) ini disiapkan untuk memproduksi model kendaraan listrik dengan volume pemesanan tertinggi di Indonesia, seperti tipe MPV listrik BYD M6 dan lini kompak SUV BYD Atto 1.
Pasca-kejadian, pihak BYD Indonesia langsung mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh kontraktor dan sub-kontraktor pembangunan untuk memperketat penerapan protokol serta standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di seluruh zona proyek.
Regulasi larangan merokok di luar area yang ditentukan akan ditegakkan secara ketat guna mengantisipasi risiko serupa. Manajemen menyatakan insiden ini tidak memengaruhi target lini masa korporasi, di mana pengujian peralatan (commissioning) tetap berjalan agar pabrik dapat memulai produksi massal kendaraan listrik komersial pertamanya.